Puisi

KETENTUAN DAN KRITERIA LOMBA MEMBACA PUISI

A.Ketentuan Perlombaan

1. Peserta adalah siswa/i SMP dan MTs kabupaten Sukabumi.

2. Setiap sekolah mengirimkan maksimal 2 orang.

3. Peserta hadir 15 menit sebelum acara dimulai dan melakukan daftar ulang di meja panitia untuk mendapatkan nomor peserta.

4. Bagi peserta yang ketika di panggil 3 kali berturut – turut tidak hadir, maka dianggap mengundurkan diri.

5. Peserta memilih salah satu puisi yang telah disediakan.

6. Peserta memakai seragam sekolah masing – masing saat membacakan puisi.

7. Peserta tidak diperbolehkan menambah atau mengurangi larik/bait dalam puisi. Peserta juga tidak diperbolehkan mengubah puisi dalam bentuk nyanyian.

8. Peserta tidak diperbolehkan menggunakan alat bantu apapun. Baik berupa iringan musik, topeng, atau kostum.

B. Kriteria Penilaian : 1. Vokalisasi 2. Intonasi 3. Ekspresi 4. Penghayatan

C. Biaya Pendaftaran Registrasi : Rp. 50.000 / orang

D. Hadiah

✓ Juara I : Trofi, Sertifikat, Uang Pembinaan

✓ Juara II : Trofi, Sertifikat, Uang Pembinaan

✓ Juara III : Trofi, Sertifikat, Uang Pembinaan

E. Contact Person

Nurjatnika, S.Pd. : HP (0857-2398-8383)

Tasya Zahira : HP (0858–7169-8523)

Regrads.

WUKUP XIV 2018

 

Daftar Pilihan Puisi

Toto Sudarto Bachtiar

IBU KOTA SENJA

Penghidupan sehari – hari, kehidupan

sehari – sehari

Antara kuli – kuli berdaki dan

perempuan bertelanjang mandi

Di sungai kesayangan, o , kota kekasih

Klakson oto dan lonceng trem saing – menyaingi

Udara menekan berat diatas jalan

panjang berkelokan

Gedung – gedung dan kepala mengabur

dalam senja

Mengurai dan layung – layung membara

di langit barat daya

O, kota kekasih

Tekankan aku pada pusat hatimu

Di tengah – tengah kesibukanmu dan

penderitaanmu

Aku seperti mimpi, bulan putih di

lautan awan belia

Sumber – sumber yang murni terpendam

Senantiasa diselaputi bumi keabuan

Dan tangan serta kata menahan napas

lepas bebas

Menunggu waktu mengangkut maut

Aku tiada tahu apa – apa, di luar yang

sederhana

Nyanyian – nyanyian kesenduan yang

Menunggu waktu keteduhan terlanggar

di pintu dini hari

Serta di keabadian mimpi – mimpi

manusia

Klakson dan lonceng bunyi bergiliran

Dalam kehidupan sehari – hari,

kehidupan sehari – hari

Antara kuli – kuli yang kembali

Dan perempuan mendaki tepi sungai

kesayangan

Serta anak – anak berenang tertawa

tak berdosa

Dibawah bayangan samar istana kejang

Layung – layung senja melambung hilang

Dalam hitam malam menjulur tergesa

Sumber – sumber murni menetap

terpendam

Senantiaa diselaputi bumi keabuan

Serta senjata dan tangan menahan

napas lepas bebas

O, kota kekasih setelah senja

Kota kediamanku, kota kerinduanku.

 


TANAH AIR MATA

Sutardji Calzoum Bachri :

 

Tanah air mata tanah tumpah dukaku

Mata air air mata kami

Air mata tanah air kami

 

Di sinilah kami berdiri

Menyanyikan air mata kami

 

Di balik gembur subur tanahmu

Kami simpan perih kami

Di balik etalase megah gedung  gedungmu

Kami coba sembunyikan derita kami

 

Kami coba simpan nestapa

Kami coba kuburkan duka lara

Tapi perih tak bisa sembunyi

Ia merebak ke mana – mana

Bumi memang tak sebatas pandang

Dan udara luas menunggu

Namun kalian takkan bisa menyingkir

Ke mana pun melangkah

Kalian pijak air mata kami

Ke mana pun terbang

Kalian kan hinggap di air mata kami

Ke manapun berlayar

Kalian arungi air mata kami

 

Kalian sudah terkepung

Takkan bisa mengelak

Takkan bisa ke mana pergi

Menyerahlah pada kedalaman air mata


KRAWANG-BEKASI

Chairil Anwar :

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi

Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.

 

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,

Terbayang kami maju dan berdegap hati?

 

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

 

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.

Kenang, kenanglah kami.

 

Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

 

Kami sudah beri kami punya jiwa

Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan

arti 4-5 ribu nyawa

 

Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah  kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang

berserakan

 

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan

Kemenangan dan harapan

Atau tidak untuk apa-apa,

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kaulah sekarang yang berkata

 

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

 

Kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskan jiwa kami

 

Menjaga Bung Karno

menjaga Bung Hatta

menjaga Bung Sjahrir

 

Kami sekarang mayat

Berilah kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan

impian

 

Kenang, kenanglah kami

Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi.                                                                                                                                                                                                1948