adebahri

Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Surade

Hentikan “ kekerasan’’ dalam Pendidikan

235
Poster Stop Kekerasan dalam Pendidikan

Di Negara kita, pada akhir-akhir ini banyak sekali ditemui kasus kekerasan di dalam ruang lingkup dunia pendidikan, seperti pemukulan yang di lakukan oleh guru terhadap murid ataupun pelecehan terhadap muridnya sendiri baik di tingkat SD, SMP maupun SMA. Salah satu contoh tindak kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan yang menyeret suatu Institusi Pendidikan yang mana membawa empat orang guru di salah satu Sekolah Menengah Pertama 197 di Jakarta, sungguh terlihat sangat miris. Pasalnya, kasus pemukulan tersebut di bawa ke ranah hukum dan hingga saat ini kasus tersebut belum selesai juga di tangani pihak aparat terkait dalam hal pihak Kejaksaan Negeri.

Menyikapi persoalan tersebut menurut pendapat saya sebagai mahasiswa calon pendidik, seorang pendidik khususnya guru di sekolah adalah model atau panutan serta contoh bagi siswa-siswinya. Seharusnya guru tersebut menjadi contoh yang baik. Sebagaimana kata Pepatah, ‘apabila kita mendidik dengan kekerasan maka anak didik mulai membenci; Apabila kita mendidik berlemah lembut maka anak didik akan mulai menyayangi.

Ketika guru melakukan tindak kekerasan maka tidak jarang muridnya akan menirukan hal yang sama. Karena bagi mereka kekerasan menjadi tindakan yang biasa dilihat dan biasa dilakukan. Dan yang paling memiriskan lagi adalah hal ini dapat menjadi kebanggan bagi murid atau siswa dalam menirukan dan melakukan tindak kekerasan tersebut.

Pandangan saya pendidikan adalah landasan utama untuk melakukan perubahan besar bagi Indonesia. Hanya dengan pendidikan yang baik lah paradigma, sikap dan prilaku umat manusia dapat berubah dan tercerahkan.

Saya sendiri sangat setuju dengan pendapat Jhon Locke, seorang filsuf yang mengatakan bahwa “sejak lahir manusia merupakan sesuatu yang kosong dan dapat di isi dengan pengalaman-pengalaman yang diberikan lewat pendidikan dan pembentukan yang terus-menerus”. Lalu apagunanya Institusi Pendidikan apabila seorang guru sering memperagakan dan melakukan tindak kekerasan kepada murid atau siswanya sendiri?

Saya tidak setuju dengan adanya tindak kekerasan seorang guru terhadap para muridnya dengan alasan apapun. Dari kebanyakan yang saya lihat dan saya ketahui tentang mekanisme atau cara mendidik memang berbeda-beda satu dengan yang lainnya, walaupun demikian cara yang di lakukan itu tidak semata-mata sampai mencelakakan anak didik. Karena ‘jika anak di didik dengan kekerasan maka anak itu akan bertambah nakal, brutal, atau bahkan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, bukannya menjadi anak yang baik atau yang diharapkan ’. Begitu juga keadaannya ketika suatu tindak kekerasan sudah merambah masuk ke dunia pendidikan atau ke sekolah-sekolah, seperti yang kita ketahui bersama terjadi belakangan ini di berbagai daerah di Indonesia sepertinya kekerasan dalam dunia pendidikan merupakan sesuatu hal yang tidak lagi dianggap asing, atau bahkan menjadi sesuatu yang akrab bagi pendidik untuk melapiaskan kekesalan.

Di dalam mendidik siswa, harusnya setiap guru memiliki cara dan trik tersendiri bukan hanya untuk di terapkan oleh para guru yang nota bene sebagai pendidik, melainkan guru juga sebagai peran utama yang bisa memerankan semua aspek dalam kehidupan ini agar dapat masuk dan diterima oleh akal pikiran, serta menetap dalam jiwa sanubari para siswa sehingga meninggalkan kesan yang positif dan baik nantinya tanpa menimbulkan efek dendam di dalam hati dan pikiran para murid melainkan di buat sebagai pembelajaran yang baik dan menjadi pengalaman yang berharga bagi seluruh siswa didik itu sendiri.

Saya pribadi adalah sosok yang anti kekerasan. Karena menurut saya jika dalam mendidik seorang guru menggunakan kekerasan terhadap muridnya maka akan banyak sekali menimbulkan efek negative bagi guru itu sendiri maupun terhadap murid. Kekerasan pada siswa ini tak hanya timbul dalam wujud fisik, tetapi juga dalam wujud verbal (bahasa). Bentakan, kata-kata kasar sering tak terhindari ketika seorang guru jengkel dan marah. Hal ini tak hanya membekas secara psikologis, tetapi berefek pada jiwa anak. Jiwa anak yang baru tumbuh, sangat sensitif terhadap efek dan respons dari luarnya.

Dampak kekerasan lainnya terhadap siswa itu sendiri bisa tampak dan memiliki dampak yang kurang baik bagi siswa. Hal dampak yang kurang baik itu menyerang fisik, psikologis, dan sosial. Dampak secara fisik mengakibatkan organ-organ tubuh siswa mengalami cacat seperti memar atau pun luka-luka. Secara Psikologis merupakan trauma psikologis yang menimbulkan rasa takut, rasa tidak aman/nyaman, dendam, menurunkan semangat belajar, menurunkan daya konsentrasi, menurunkan kreativitas, hilang inisiatif dan daya tahan (mental) siswa, menurunkan rasa percaya diri, inferior, depresi, stress dan sebagainya.

Dalam jangka panjang dampak ini bisa terlihat dari penurunan prestasi, perubahan prilaku yang menetap. Sedangkan pada dampak social nya adalah siswa yang mengalami tindakan kekerasan tanpa adanya penanggulangan. Dan siswa juga bisa saja menarik diri dari lingkungan pergaulan, karena ada rasa takut, merasa terancam, merasa tidak bahagia berada diantara teman-temannya. Mereka juga menjadi pendiam, sulit berkomunikasi baik dengan guru maupun sesama temannya. Dan bisa jadi, mereka sulit untuk mempercayai orang lain serta semakin menutup diri dari pergaulan.

Namun, kekerasan dalam pendidikan ini tidak akan bisa hilang dengan begitu saja selain dari keikutsertaan dan adanya kontribusi dari semua pihak. Bisa juga di dapat pemahaman tentang dampak yang sedang terjadi dari kejadian itu sendiri. Dan pada dasarnya di sini semua kalangan harus ikut merasa bertanggung jawab.

Sampai kapan kita akan bertahan untuk selalu diam, dan jika kemungkinan dalam posisi tersebut saudara kita, anak tetangga kita, dan bahkan anak kandung kita sendiri pun bisa mengenali dan mengalami tindakan kekerasan di sekolahnya. “KARENA GURU ADALAH BENTENG TERAKHIR BAGI TEGAKNYA MORAL PANCASILA”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *